Thursday

Tujuh Bulan "nya" , III


Pagi setelah malam itu aku sakit. Perutku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Begitu sakitnya sampai aku lupa kalau hari itu ada rapat perdana yang harus aku hadiri. Tanpa berpikir panjang, tanganku meraih HP yang tidak jauh dari tempat tidur, memberi kabar pada sekretaris UKM dan meminta tolong dimintakan ijin kepada ketupel acara.  
“done, akhirnya aku bolos rapat”, pikirku dalam hati.
Sampai detik itu, dia yang tadi malam menghabiskan waktu bersamaku, belum tahu kalau aku sakit.
Tak berapa lama, HP ku berdering. Tanpa diduga, itu message darinya.

“sudah mandi?, ini sudah jam setengah 8”, pesannya begitu singkat tetapi sangat berarti untukku kala itu.
Lama kudiamkan message itu, tak sedikitpun ada perasaan ingin membalasnya, sebenarnya ada, bahkan sangat ada, tetapi keegoisannya telah menular padaku.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jauh-jauh hari sebelum itu, aku dan dia bagai dua orang yang hanya saling mengagumi dari jauh. Dia tahu aku sejak lama, begitu pula aku. Waktu dan kondisi juga belum berpihak pada kami. Hingga akhirnya, suatu malam tempat kami saling menatap pertama kali itu pun datang. Dalam gelap dia mencoba mencari sisi lain dalam diriku.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
  
Sebenarnya tujuan utama ke malang kala itu, hanya untuk menghadiri rapat perdana, setelah itu aku akan bergegas ke Pare (kurang lebih satu bulan), itu agenda rutin tiap libur panjang.
Pukul 08.00, aku masih berdiam di bawah selimut tebal milikku. Menikmati setiap rasa yang timbul karena ulahku sendiri.
“mbak, ayo berangkat sekarang saja!”, ajak adik kosku yang juga mau bersama ke pare.
“hm???, baiklah… aku ga usah mandi ya?!”, kataku ringan.
“ywdah, terserah”, jawabnya.
Benar sekali, tanpa mandi, aku langsung bersiap. Menata apa saja yang perlu dibawa. Tak harus berlama-lama, kami telah duduk di sebuah land yang akan membawa kami ke arjosari.

Di land itupun aku tidak leluasa menikmati setiap pemandangan yang ada. Perutku terus saja memberontak. Tanpa sadar kudengar melodi jubing kristianto, salah satu gitaris favoritnya dan juga nada dering HPku kala itu. Belum sepenuhnya sadar, aku mencoba mengambil HP yang berada jauh di dalam tas. Ketika berhasil kuraih, kulihat nama dia muncul pada layar HPku. Aku terbelalak, kaget.
“udah, angkat saja mbak. Itu kan yang kamu tunggu dari tadi?”, suara adik kosku menggoda.
“ah,, enggak, bysa ja”, kataku menyembunyikan kebahagiaan.
Beberapa missed call dari dia berlalu begitu saja, mesagenya pun tak terbalas.
Sesampainya di terminal, kembali dia menelpon.  Entah apa yang terpikirkan olehku, jemariku langsung menekan tombol accept. Suara dia yang lembut mulai terdengar.
“hey, kamu sakit ya? Gara-gara aku semalam?”, tanyanya begitu antusias.
“hehe, aku ga apa-apa kok”, jawabku masih seperti biasa tak mau ada orang yang mengasihaniku.
“jangan lupa minum obat, istirahat yang cukup”, ucapnya.
“he’em”, sahutku.

 suaranya terputus begitu saja.
Sepanjang jalan malang-tulungagung, aku merasakan kesepian di tengah keramaian. Berbagai pikiran muncul dalam benakku dan tak pasti apa saja itu. Yang jelas, setelah hari itu tekatku begitu bulat untuk mendapatkan hatinya.
Belum sampai dua jam, setelah dia menelponku, dia kembali mengirim message buatku. Tertulis, dia akan mencoba mengenalku. Senang sih… tapi aku merasa tak begitu senang.

29 mei, ultahku pun akan segera terlewati. Berharap dia menjadi yang pertama. Sebelumnya, ketum UKM message aku, dia mengajak taruhan siapa dari sekian anak buahnya (yang tertarik padaku) yang akan mengucapkan yang pertama.
Tentu saja aku tidak tertarik, karena aku rasa dia (yang aku sukai) bukan tipe orang seperti itu.

00:00, beberapa message datang, dari nomor yang sama. Benar sekali, no dia. Aku langsung terbangun, masih belum percaya. Dia yang tidak begitu menyukai bahasa inggris mencoba mengucapkan selamat ulang tahun memakai bahasa yang asing. Aku sedikit tersenyum membacanya, disana-sini tensesnya perlu perbaikan, tetapi tak masalah aku menghargainya. J
Hari-hari setelah itu, aku berada di Pare. Satu bulan lebih aku disana, tetapi masih saja mengejar perhatiannya. Tak tahu apa yang dia pikirkan, aku yakin kalau dia mulai menyukaiku. Hingga pada suatu malam dia mengatakan apa yang dirasakannya,

“ich liebe dich”, kurang lebih seperti itu.  



0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.
© Secret Letter | Powered by Blogger | Happy Day Template designed by BlogSpot Design - Ngetik Dot Com