Ada yang berbeda ketika pertama ku melihatnya.
Sosok yang teduh, mempesona, itulah dia. Dia datang disaat kau tak disini. Tanpa apapun, baik cermin atau kalimat tanya. Segenap rasa yang akan melindungiku. ya... begitulah singkatnya.
Tak seperti biasa, hari itu dia menghubungiku, tiba-tiba. Mengajakku tuk segera melupakanmu.
Ah, apa bisa ?, pikirku.
"baiklah, akan ku coba", sahutku.
Senja yang selalu ku suka, membisikkan ku tuk tampil lebih baik malam ini.
Dengan segenap yang aku bisa, aku melakukannya.
"Ini untukmu", kalimat pertama yang dia ucapkan setelah takjub melihatku, yang lain dari biasanya.
Setangkai mawar merah dan coklat, kesukaanku.
"terimakasih..", kataku datar dan segera berjalan membelakanginya.
Lama dia berucap tetapi aku masih sama, diam.
Dia bercerita, tentang mimpi yang akan dia raih, tentang pengalaman yang membuatnya bangga akan dirinya.
"begitukah ?", tanyaku dalam hati.
Tanpa ku sadari, aku luluh lantak oleh sinar matanya, yang tanpa sengaja ku lihat semangat disana.
Dan secara sadar, aku mengatakan "mungkin kamu akan berhasil, lakukan seperti ini, sejauh yang kamu bisa".
Begitu sulit ku akui, saat itu aku memang tidak sekuat biasanya. Sampai dia pun datang dan aku menerima uluran tangannya.
