Sunday

H - 26 "Message"



Ketika ku kembali ke tempat ini, sekejab, dingin memaksaku melukis memori tentang kita. Benar, 24 desember 2012. Di tempat ini, hampir 4 jam kita berbalut hawa dinginnya malang.
Tapi, seketika itu pula aku teringat dengan mereka, pelukis indah dalam masa lalumu yang mungkin akan ikut andil dalam coretan buku kita.

Jelas….
aku tak bisa terima itu !

Aku ingin kamu tahu,
selama ini aku hanya diam, karena tak ada gunanya ingin tahu kenanganmu. Kamu dan dia, dia yang lain, telah melukis indah hari-hari kalian dan sekarang sudah tutup cerita. Jadi, tak ada gunanya aku mengais-ngais cerita itu. 

Kalaupun mereka bercerita benyak hal tentangmu, tentang hari-harimu yang lalu, aku juga bisa terima. Aku masih “Fimma” dengan segenap logika. Ku sadari, aku kalah waktu dan aku bisa terima.
Yang aku tahu, sekarang, aku dan kamu, menulis bersama dalam buku yang sama pula.
Secara jujur ku tuliskan, aku tak mau ada mereka yang ikut campur. 

Tetapi entah kenapa…
tiba – tiba saja mereka datang kepadaku, satu persatu, memberitahuku, dan akhirnya ku ketahui semua.
Aku sudah siap, sebenarnya.

Tetapi, tetap saja. Aku wanita. Aku punya perasaan dan aku ingin kamu tahu itu.
Kata – kata indahmu, hilangkan untuk mereka !!!. Itu harapku.

Aku tak memaksa, karena aku tahu kamu suka dunia seperti itu, begitu pula aku.
Bagaimanapun juga, tak bisa dipungkiri. Wanita lebih sering menggunakan perasaan dibanding logika. Dan disinilah kelemahanmu. Kalau aku diposisimu, mungkin aku juga tidak bisa memberi ketegasan. Aku harus menjaga perasaan mereka, tetapi kalau dipikir-pikir lagi, sampai kapan ?
Mereka punya hidup masing-masing, mereka juga telah punya pasangan, kecuali satu. Jadi aku rasa, tak salah kalau harus mengatakan ini. “Dan sudah seharusnya mereka menyadari keberadaanku.”

Kalaupun kamu masih saja seperti itu, semua hanyalah alasan pembenaran….
Ya benar, “hanya alasan pembenaran”.

-----------------------------------------------------

Sekali lagi, aku percaya. Tidak ada duka yang abadi di dunia. Begitu pula kisah ini. Bukankah akan membosankan kalau hanya bersenang-senang saja ? aku anggap ni adalah rintangan untuk perasaanku.
ini hanya seonggok batu kecil yang apabila kita bisa lewati bersama, maka bisa mencapai level lebih tinggi. kamu setuju sayang ? 
J

Semoga saja kamu memahami, yang aku anggap sebagai cinta itu sayang adalah takaran murni kepercayaan yang tak pernah aku tambah curiga dalam satuan beratnya. Aku percaya kamu, hingga detik ini.  


Powered by Blogger.
© Secret Letter | Powered by Blogger | Happy Day Template designed by BlogSpot Design - Ngetik Dot Com