Ketika ku kembali ke tempat ini, sekejab, dingin memaksaku
melukis memori tentang kita. Benar, 24 desember 2012. Di tempat ini, hampir 4
jam kita berbalut hawa dinginnya malang.
Tapi, seketika itu pula aku teringat dengan mereka, pelukis
indah dalam masa lalumu yang mungkin akan ikut andil dalam coretan buku kita.
Jelas….
aku tak bisa terima itu !
aku tak bisa terima itu !
Aku ingin kamu tahu,
selama ini aku hanya diam, karena tak ada gunanya ingin tahu kenanganmu. Kamu dan dia, dia yang lain, telah melukis indah hari-hari kalian dan sekarang sudah tutup cerita. Jadi, tak ada gunanya aku mengais-ngais cerita itu.
selama ini aku hanya diam, karena tak ada gunanya ingin tahu kenanganmu. Kamu dan dia, dia yang lain, telah melukis indah hari-hari kalian dan sekarang sudah tutup cerita. Jadi, tak ada gunanya aku mengais-ngais cerita itu.
Kalaupun mereka bercerita benyak hal tentangmu, tentang hari-harimu yang lalu, aku juga bisa terima. Aku masih “Fimma” dengan segenap logika. Ku sadari, aku kalah waktu dan aku bisa terima.
Yang aku tahu, sekarang, aku dan kamu, menulis bersama dalam
buku yang sama pula.
Secara jujur ku tuliskan, aku tak mau ada mereka yang ikut campur.
Secara jujur ku tuliskan, aku tak mau ada mereka yang ikut campur.
Tetapi entah kenapa…
tiba – tiba saja mereka datang kepadaku, satu persatu, memberitahuku, dan akhirnya ku ketahui semua.
Aku sudah siap, sebenarnya.
Tetapi, tetap saja. Aku wanita. Aku punya perasaan dan aku ingin kamu tahu itu.
Kata – kata indahmu, hilangkan untuk mereka !!!. Itu harapku.
Aku tak memaksa, karena aku tahu kamu suka dunia seperti itu, begitu pula aku.
Bagaimanapun juga, tak bisa dipungkiri. Wanita lebih sering
menggunakan perasaan dibanding logika. Dan disinilah kelemahanmu. Kalau aku
diposisimu, mungkin aku juga tidak bisa memberi ketegasan. Aku harus menjaga
perasaan mereka, tetapi kalau dipikir-pikir lagi, sampai kapan ?
Mereka punya hidup masing-masing, mereka juga telah punya pasangan, kecuali satu. Jadi aku rasa, tak salah kalau harus mengatakan ini. “Dan sudah seharusnya mereka menyadari keberadaanku.”
Mereka punya hidup masing-masing, mereka juga telah punya pasangan, kecuali satu. Jadi aku rasa, tak salah kalau harus mengatakan ini. “Dan sudah seharusnya mereka menyadari keberadaanku.”
Kalaupun kamu masih saja seperti itu, semua hanyalah alasan
pembenaran….
Ya benar, “hanya alasan pembenaran”.
Ya benar, “hanya alasan pembenaran”.
-----------------------------------------------------
Sekali lagi, aku percaya. Tidak ada duka yang abadi di dunia.
Begitu pula kisah ini. Bukankah akan membosankan kalau hanya bersenang-senang
saja ? aku anggap ni adalah rintangan untuk perasaanku.
ini hanya seonggok batu kecil yang apabila kita bisa lewati bersama, maka bisa mencapai level lebih tinggi. kamu setuju sayang ? J
ini hanya seonggok batu kecil yang apabila kita bisa lewati bersama, maka bisa mencapai level lebih tinggi. kamu setuju sayang ? J
Semoga saja kamu memahami, yang aku anggap sebagai cinta itu
sayang adalah takaran murni kepercayaan yang tak pernah aku tambah curiga dalam
satuan beratnya. Aku percaya kamu, hingga detik ini.
