Sunday

Apa kabar, kamu?

Hai… apa kabar kamu?
tiba-tiba saja, saat ini, aku ingin menanyakannya, di depanmu.

Entah apa yang ku pikirkan, semua yang ada di ruangan ini masih begitu kental oleh sosokmu.  Benar, dan aku yakin, masih kamu.

Kuingat, beberapa tahun silam, kau begitu gigih berjuang. Tak peduli apa saja yang ada dan harus kau takhlukkan. Tak peduli seberapa galak ayahku saat kau pertama kali datang, meski bersama banyak ajudan dan sedikit gemetar , tetapi kau tetap melangkah maju.
Semua hanya untukku. Aku, yang kala itu belum menganggapmu, walau sedikit, meski hanya untuk mencoba menyimpan senyummu.

Masih ingat kah kamu jawaban apa yang kamu lontarkan ketika temanmu tahu plat motor milikmu terukir nama panjangku?
Kau bilang, kau akan bisa mendapatkan hatiku dan umur hubungan kita akan lebih lama dari umur  plat motor itu.

Detik ini, aku hanya bisa tersenyum dan membenarkan semua. Plat motor itu hanya berumur 5 tahun dan kita???? Sekitar tujuh tahun. Waktu lama, tetapi tidak selama yang aku pikir, dulu.

Ada alasan, pastinya, kenapa tiba-tiba aku mengingat masa itu. Mungkin aku telah lupa, tapi akan ku ingat kembali satu persatu.

Hum,,, sedetik, dua detik. Aku masih lupa.
Kau telah mengukir banyak kenangan di hariku. Aku bingung mau menuliskan yang mana.

Ok, akan aku coba.
Mulai dari Tulisan jelek di kertas pink yang bisa berdiri, kamu ingat?,
atau satu pasang boneka pink yang kau beli sewaktu liburan di Jakarta?.

Hadiah yang aneh. Kamu tahu aku tidak menyukainya, tetapi kamu bersikeras memberikannya. Kamu bilang, aku akan lebih cantik bila menyukai benda-benda itu. Aku memang tak pernah meminta semua, tetapi tiba-tiba kau memberikannya untukku. Ah… dan tanpa merasa bersalah, aku malah memaki-makimu. Haha, maaf…
(Kala itu, aku bingung harus menjawab apa kalau orang tuaku bertanya. )


Hujan badai, dan terik panas takkan ada yang bisa menghalangi inginmu. Sebenarnya kita sama, tetapi tetap saja, tidak ada yang sama persis.

Jam 17.00. Waktu itu kau liburan keluar kota, bersama keluargamu.
Entahlah, seberapa penting aku buatmu, kala itu. Yang aku tahu kau begitu ingin dengar suaraku.

Dari kota besar , kau mencoba menelpon ke telpon rumahku. Walau tak lama, namun aku mendengar senyum puasmu saat kuucap salam.
Terakhir kau bilang, butuh Rp.50rb untuk mendengar suaraku, lima menit.
“siapa suruh??!! Jauh2, telpon aku”, ucapku dalam hati.

Ada lagi, dolphin birumu. 

Kau tahu, saat itu aku sangat menyukai film “Teluk Lumba-Lumba”,  dan setiap kali bersamamu aku selalu berceloteh tidak jelas tentang itu. Tetapi dengan tetap tersenyum dan sesekali mengelus kepalaku kau mendengarkannya, tanpa mengeluh.

Begitu banyak kejahatan yang aku lakukan untukmu.  Yang paling parah, kejadian sewaktu hujan.
(hehe, aku tak habis pikir, kenapa sampai hati melakukannya)

Malam itu, angin begitu kencang, udara begitu dingin, melodi hujanpun berbunyi dengan indahnya. Aku, tiba-tiba saja menyuruhmu datang ke kosku. Aku bilang,

         “aku ga mau tw, dalam 20 menit kau harus tiba”

Benar sekali, kau datang, basah kuyup, mungkin saat itu kau sangat kedinginan. Tetapi entah apa yang aku pikirkan, aku menyuruhmu pulang, langsung saja. Aku marah sewaktu kau ingin berhenti sejenak.
(huhft Tuhan.. maafkan aku )

---------------------------------------------------------------------------------------------------

 Kau tahu? Ulang tahun terindah hingga kini adalah ketika umur 17 tahun. Benar, semua karena ulahmu. Selalu ada moment baru yang dulu menyebalkan dan aneh, tetapi sangat lucu ketika kini aku mengingatnya, kembali.

Malam sebelum ulang tahunku kau menelpon (di telpon kos). Kau bilang, tidak bisa memberi apapun dan mungkin besok kau tidak akan menemuiku karena ada masalah penting yang tidak bisa kamu tinggalkan.

Dengan polos, aku percaya saja setiap ucapanmu. Aku pikir, itu memang benar. Sedikit kecewa, tetapi tidak lama, kemudian aku mengabaikannya.


Paginya, sama seperti biasa. Aku berangkat ke sekolah, sendirian. Entah seragam apa yang aku kenakan hari itu, aku tidak ingat. Yang aku ingat pelajaran pertama adalah fisika.

Pukul 06.45, lonceng sekolahku berbunyi. Otomatis aku dan teman-temanku masuk dalam ruang kelas.
Ketika aku melangkahkan kaki menuju kelas, tanpa diduga 14 bunga mawar merah datang menghampiriku. Seorang kakak kelas memberi kannya padaku. Dia tidak bilang dari sapa, dia hanya tersenyum. Teman-teman yang tahu itu heboh, rame. Tak lama kemudian, 14 mawar tambahan datang. Kali ini dia menyampaikan pesanmu,

“satu tangkai sisanya akan diberikannya sendiri”

singkat dan aku mulai sadar, waktu itu aku mulai menganggapmu istimewa.

Begitu senangnya, aku tak peduli lagi dengan bunga-bunga indah pemberianmu. Semua telah dibagi-bagi adil, ke teman-temanku yang lain. Aku yang lupa kalau guru fisika telah datang, hanya tersipu malu mengingat yang baru saja terjadi.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku yang dulunya tak bewarna, kini mulai menyimpan banyak warna. Semua karenamu. Tenang, birumu masih mendominasi. Aku masih menyukainya.

Oh iya, kamu ingat?
Hari itu kamu mendapatiku menangis. Kamu paham benar, kalau aku menangis butuh waktu yang lama untuk diem atau sekedar berenti terisak dan bercerita apa yang terjadi. Kamu juga tahu, aku jarang sekali menangis dan waktu itu tebakanmu benar. Aku menangis karena ayah.

Pertama kali kau melihatku menangis, kau langsung berjanji untuk tak pernah membuatku menangis, juga akan selalu menjagaku supaya tak kan pernah ada air mata yang keluar dan menetes di pipiku.

Binar mata yang menyiratkan kesungguhanmu saat itu, tak kan pernah ku lupa. Dan andai saja kau tahu, belum ada yang melakukannya (lagi).

Entahlah, aku tidak paham maksudmu. Janjimu itu begitu berat, aku sendiri tak habis pikir bila harus membayangkannya.

Orang dewasa memang banyak benarnya. Kamu berhasil, berhasil membuatku diem kala itu karena kau membuat firework sederhana yang membuatku tersenyum, akhirnya. Kau juga berhasil untuk tidak membuatku menangis dan menjagaku dari orang-orang yang bisa membuatku menangis.

Walau saat itu kau bilang “selalu”, namun aku kini sadar. Selalu mu itu telah mengabar selama tujuh tahun. Mungkin juga selalu yang pernah kau ucapkan itu adalah selalu dalam rentang tujuh tahun.




Detik ini, kalau ingat, aku pasti akan merindukanmu. Dan tenang saja,  akan ada orang yang menggantikanmu, bahkan jauh lebih baik. 

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.
© Secret Letter | Powered by Blogger | Happy Day Template designed by BlogSpot Design - Ngetik Dot Com