Tuesday

Kertas Kosong

melodi hujan masih saja menemani sepi yang mulai mengikis setiap inch logika. "bosan", mungkin, itu rasamu.
sudut mata yang kusut menunjukkan dirimu tak lagi biasa. entah, untuk alasan apa aku mengatakan ini, yang aku tahu sekarang kamu membutuhkanku.


tanpa pikir panjang, aku mengajakmu menemui temanku, hujan. dengan penuh kepedihan, kau coba tersenyum, memperkenalkan dirimu kepadanya. perih memang, secara sadar aku menarikmu mengingat hari-hari kelam. semua terjadi begitu saja, luka yang seharusnya mengering kini terbuka (lagi).
"maaf aku bukan teman yang baik", aku mencoba berucap.

 
dingin dan sebenarnya aku juga tak tega, melihat indahmu yang semakin memudar seiring berlalunya air hujan yang coba mengobati pedih.


"apa yang bisa aku lakukan untukmu ?", dengan berani aku menanyakannya.

kamu terdiam, tak sedikitpun jawab ingin kamu hadirkan rupanya.

"ah, sia-sia", keluhku.

kali ini aku berpura, mengetahui yang sebenarnya tak pernah aku ketahui.
bukan hanya kamu, tetapi aku juga, pikirku.


cukup lama, aku membiarkan mu menikmati fantasi indah yang kamu cipta, tanpa mengajakku.
dan akhirnya kamu berani menatapku.
binar indah yang aku tunggu, senyum simpul, hadir kembali.


"aku sering tersakiti dan sudah saatnya aku bertindak cerdas", ucapmu memulai pembicaraan.

saat itu, aku kembali menggantikanmu terdiam. menunggu kalimat selanjutnya yang akan kau ucap.

...kau berteriak panjang, terisak.

sial, aku salah...
kalau sudah begini, tak akan ada yang bisa memilah dukamu. tidak kau, apalagi aku. 


"demimu, aku mampu__ menjadi rumah tujuan, dikala tawa juga tangismu", dengan lancang aku kembali menjanjikannya untukmu dan kuakui,
sebenarnya kamu masih terindah...
 

sayangnya, kini aku hanya kertas kosong, untukmu...


 
Powered by Blogger.
© Secret Letter | Powered by Blogger | Happy Day Template designed by BlogSpot Design - Ngetik Dot Com