Memandang langit
sore, rasa semakin teduh. Sisa terik siang tadi telah punah tersamar awan-awan
yang berarak menuju matahari. membuatku ingin cepat-cepat terdiam. menanti
kerlip pelangi pada 9800_ku yang kuketahui itu (hanya) milikmu.
Entah sejak lembaran kisah mana, ku mulai terbiasa seperti ini. menanti hadirmu mengurai kisah. bercerita tentang tugas yang telah selesai atau tak jarang juga kau ceritakan renstra hari esok. dengan teriakan kecil, kau biasa mengakhiri cerita sebagai abdi negara. kalaupun tak begitu, kau memulai berkata. memaksa fikirku berpola, mengurainya.
[“Apa yang sedang terbetik dalam fikirmu, sayang?” Sebuah tanya sering kulayangkan dalam hati saat kau membisu ditengah kita (mencoba) melukis kisah hidup.
walau tanya itu ada
namun tak pernah ku tahu kejujuran jawabnya.
mungkin benar, ada
sunyi yang tak akan benar-benar berubah dalam lembaran hari. akupun belum
terbiasa menarikmu ketika waktu menekuk dirimu dalam-dalam. benar pula, aku
belum mampu bantumu menepis kabut-kabut gelap yang bergelayut di hati. Maafku
atas segala keterbatasan ini, sayang]
Hadirmu memang belum
lama. Sejak aku melalui uas ke lima. Walau saat itu masih sangat
jarang kulalui hari bersamamu, tapi di kondisi tertentu benar-benar membuatku harus
berkutat dengan duniamu.
Kini, atas hadir dan
tingkahmu dalam hidup, sapaku padamu, sayang.
Muhammad Zamroni,
nama yang kufikirkan sejak lama, dan menemukanmu dalam kondisi yang tak terfikirkan. Cukup lama. Dan pantaslah dirimu dengan sebutan yang sangat membantu mengumpulkan serpihan hariku. Sebab, kadangkala diri ini memang lemah, dan cukup lelah jika harus memaksakan diri mengumpulkan & menyimpan tumpukan sketsa seorang diri.
Muhammad Zamroni,
nama yang kufikirkan sejak lama, dan menemukanmu dalam kondisi yang tak terfikirkan. Cukup lama. Dan pantaslah dirimu dengan sebutan yang sangat membantu mengumpulkan serpihan hariku. Sebab, kadangkala diri ini memang lemah, dan cukup lelah jika harus memaksakan diri mengumpulkan & menyimpan tumpukan sketsa seorang diri.
Bersamamu, kuingin
kau menjadi saksi bisuku dalam suka maupun duka di tengah jari-jari yang selalu
menari. Menelusuri hari dengan segumpal tugas yang menggertak jiwa,
setumpuk kisah yang terbelenggu oleh waktu, dan sekelumit lainnya yang
menggugat diri untuk menghardik setiap saat.
Dengan mendengarmu,
aku melihat sisi fitrahmu sedang berbicara, rindu pada langkah-langkah kemarin.
Padahal, esok sedang menantimu. Agaknya dirimu masih tak cukup kuat untuk
melangkah karena kondisinya lebih berbeda. Pada kondisi ini, mungkin aku juga
seperti itu. Maka, aku hanya mampu menguatkanmu dengan menyematkan namamu lewat
doaku.
Terimakasih untuk semuanya, sayang… :)
Terimakasih untuk semuanya, sayang… :)
inspirated by momo&bianglala

0 komentar:
Post a Comment