Wednesday

H - 23

Kelabu, langit yang seharusnya biru. sketsa hidup yang tak tahu harus bagaimana dan seperti apa.
banyak pilihan dan masih banyak kemungkinan, itulah yang pasti terjadi.

H-23,
tinggal 23 hari ternyata dan aku tak mampu menjamin, aku juga tak mau banyak berharap.
akan aku lakukan semaksimal yang aku bisa, mencoba mengenali seperti apa rasa yang aku kurung untukmu ini.

Perih, mungkin itu yang dirasa ketika dua nyawa harus berjalan membelakangi setelah sekian lama membangun cerita bersama. bukan karena waktu, bukan karena jarak, bukan karena usia, semua karena kesungguhan.

hm... sejauh ini, aku telah banyak tahu tentangmu sunshine, dan akhirnya aku bisa mengambil sebuah alasan untuk aku jadikan bekal ditengah cerita kita yang masih begitu singkat. aku dan kamu, kita, belum banyak bersua. aku dengan topengku, kamu dengan topengmu, dan begitulah kita.
aku rasa, ini cara NYA memperkenalkanku atas siapa kamu, setelah Dia menentukan cara terkeren untuk menyatukan kita.

kamu ingat ?, hari dimana aku melihat senyum terakhirmu di bulan ini. sekali lagi, dia memberikan kejutan buatku. aku harus menunggumu, hampir satu jam, bolak balik minta bantuan pak satpam, itupun tanpa hasil. aku yang biasanya bersikap cuek, hari itu seperti bekecot. ah, aku tidak tahu harus bagaimana lagi, semua mata memandang ke arahku, maklum, aku bukan salah satu dari kalian. dan untungnya, kamu tahu aku masih disana. menunggu kunci yang tanpa sadar kamu masukkan tas dan terbawa begitu saja. entah,  bius seperti apa yang diberikan Tuhan kala itu sehingga akupun tak sadar bagian terpenting yang akan mengantarkan pulang bersamamu.
hahaha. sungguh aneh.

--------------------------------------------------------------------------

sayang, aku tahu, semua ini bukan tanpa alasan.
ini adalah ujian Tuhan untukku, untukmu, untuk kita. apapun hasilnya, aku serahkan kepada pemilik kita.

--------------------------------------------------------------------------

hum, aku tahu. kamu berada disekitar mereka yang menggunakan perasaan sedangkan aku, dikelilingi mereka yang lebih menggunakan logika. untuk itu, lebih mudah bagiku mengatakan "tidak" dibandingkanmu.

tidak adil rasanya bila aku membuka buku lamamu, tetapi aku menyimpan buku lamaku.
kali ini akan ku ceritakan sebuah kisah yang mana aku menjadi tokohnya.
                                                        
                                                  ***

hari ini sayang, mereka yang dulu pernah ada dalam coretanku kembali datang.
dengan tersenyum mengulurkan tangan, pengharapan di masa silam dan terlupakan.
berbagai kata indah yang dianggap sebagai kejujuran berjejar mulus, keluar begitu saja. kuakui, membuat (sempat) terlena dan melupakanmu seketika.

tapi, tiba-tiba angin membawaku ke tempat dimana seharusnya aku berada, "di sampingmu".

ah, ternyata sama ...
aku memang masih seperti ini, seseorang yang mencoba percaya kepada yang ada di genggaman biarpun tahu, yang digenggamnya itu bisa saja tiba-tiba menggigit. meski tak jarang juga air mata berlomba menghiasi raut muka, tapi tetap (aku) tak pernah jera.
kali inipun aku masih berani bertaruh, untuk hati yang setiap saat bisa saja menjadi ribuan keping. bandel ?, mungkin. dan itulah kata yang sering mereka berikan untukku. haha, biarlah. mereka bebas menetukan "aku" sesuai versi mereka.

bagaimana lagi ?, inilah caraku mempertahankan yang aku miliki, meski tanpa jaminan,., #garis tebal 

aku percaya, tidak ada yang rugi bila seperti ini. tidak kamu, tidak pula mereka, lalu aku ?
ah, sudahlah... itu urusanku.

yang aku percaya sekarang, kamu akan membuat hariku lebih indah.
kalau kamu belum mampu, aku pula yang akan membuatmu mampu melakukannya, lebih hebat dari yang kamu lakukan (sebelumnya) atau yang (pernah) kamu bayangkan.

aku masih disini, untuk kita. :)











0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.
© Secret Letter | Powered by Blogger | Happy Day Template designed by BlogSpot Design - Ngetik Dot Com