Wednesday

Tujuh bulan "nya", II

:), BINGUNG harus memulai dari mana. dia, yang ku tahu begitu disiplin dan bertanggung jawab. sayang, dia bukan milikku.

sambil terus tersenyum, aku mencoba menuliskan lagi kelanjutan kisah ini. mengenang mimpi yang aku sendiri tak bisa membuatnya nyata.

------------------------------------------------------------------------------------------

"mau pulang sekarang?, tanyanya.
aku diam.
"aku pingin lebih lama disini", ucapnya lagi.
"yaudah, ayo keliling dulu", ajakku.

kekakuan menyelimuti kami, kala itu.
"mau duduk dimana?", tanyaku.
dia menunjuk satu tempat. kami bergegas.

berdua, memandang langit, mencari jejak bintang yg tiba-tiba menghilang.
dia menatapku, lama sekali (sepertinya) dan aku biarkan dulu.

bosen aku menunggu kalimatnya, aku memulai pembicaraan.
"mau cerita apa?, tumben km seperti ini".
dia tersenyum, mengacuhkan. (yang aku tw "dy" memang cuek dan tak peduli)

-------------------------------------------------------------------------------------------

dia seseorang yang mencintai alat musik petik (gitar), suka memasak dan ketika aku tanya, alasannya
dia menjawab, "gitar, aku tak butuh orang lain untuk memainkannya. memasak, aku ingin orang yang istimewa "bagiku" bisa menikmati jerih payah yg luarbiasa dariku".

ternyata masih sama, begitu dingin.

--------------------------------------------------------------------------------------------

"mau pulang jam berapa?", tanyaku memecah kesunyian.
diliatnya jam tangan silver gold, "10 menit lagi", jawabnya singkat.
"hm.. baiklah", sahutku

lama... aku menanti sepuluh menit itu. tetapi tetap saja, waktu seakan berhenti, tak berubah.

"ayow pulang, aku belom makan", ajakku.
"km belum makan? maghmu?", tanyanya.

sontak, dia mengangkat kaki. berjalan cepat, menuju motor. ternyata waktu menunjukkan pukul 22.00
berkeliling kami mencari makan, tetapi tak satupun ada yang buka.

"maaf mas, sudah habis. ini mau kami tutup", jelas salah satu karyawan ketika kami singgah ke sebuah rumah makan yg kami rasa masih buka.

perih, sepertinya perutku mulai menunjukkan reaksi, pemberontakan.
tapi, aku diam. pura-pura tak ada masalah.

terhenti dia, di sebuah warteg, remang-remang. seorang ibu dan anknya kulihat sibuk melayani pembeli, yang kebanyakan pria.

kuamati sekitar. aneh, asing, bagiku.
rupanya dia tahu apa yg ada dalam pikiranku.

"mau makan apa?," tanyanya.
aku tak mendengar.
"hey, kamu mau makan apa?", tanyanya lagi dg suara lebih keras.
"ikut kamu aja", kataku.
"santai, aku disini, menjagamu. yang penting km tak knpa-knpa", jelasnya.

"ha????", aku sedikit kaget. dia??? bicara spt itu??? ke aku??? #masih tiada percaya.

tak lama, makanan yg kami pesan sudah ada di depan kami.
aku yang sedari tadi memainkan HP, untuk sekedar melupakan sakit yg aku rasa, tak menyadarinya.
"makan dulu, sini HPnya", secepat kilat tangannya meraih dan menyimpan HPku.

segitunya????????, pikirku.

kami mulai makan.
kurang dari lima sendok, aku berhenti. kini, perih yang ku rasa semakin menjadi-jadi.
"kenapa?, oh... rokok ya?", tanyanya dan dia merasa menemukan jawaban, sendiri.
aku hanya tersenyum
"klw bgtu, ayow pulang", katanya.

belum sempat kami beranjak dari tempat duduk, HPnya berbunyi, dia tersenyum.
"sebentar lagi kamu juga dapat sms", dia mengulurkan tangan, mengembalikan HPku.

benar sekali, belum lama dia usai bicara, ada sebuah pesan dari ketum UKM yg mengingtkan klw besok ada rapat dirga. (kebetulan dia di acara dan aku di konsumsi)

"ayo, aku ingin kita balas dg kata2 yg sama persis", ajaknya.
aku masih diam.
tak sabar, dia mengambil HPku (lagi) dan membalas sama persis dg balasan yg dia kirim.

"setelah kamu buka mata esok hari, anggap malam ini tak terjadi. dan bila besok kita ketemu (sewaktu rapat), beraktinglah seakan-akan kita tidak saling kenal.






0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.
© Secret Letter | Powered by Blogger | Happy Day Template designed by BlogSpot Design - Ngetik Dot Com