Dinginnya
malam itu datang begitu saja.
Menebarkan kelam yang merasuk hingga tiap inch logika.
Mendung hitam menggantung, air mata tak lagi dapat tertahan.
Sungguh aneh, memang. Memamerkan sketsa hidup
yang datang tanpa secuil tanya.
Menebarkan kelam yang merasuk hingga tiap inch logika.
Mendung hitam menggantung, air mata tak lagi dapat tertahan.
Sungguh aneh, memang. Memamerkan sketsa hidup
yang datang tanpa secuil tanya.
Aku terisap ragu sesaat, tertegun di sudut kamar.
Terbayang wajah yang hampir seminggu “tiba-tiba” berstatus
istimewa. Entah, apa makna getar itu. Tapi yang ku tahu, ada:
“perasaan syahdu yang menyisir
ketermanguanku
saat jarak memasung tatap”
Tiga jam berlalu, kau masih lalu lalang dalam anganku,
sementara tubuhku masih terpaku dalam diam.
Menunggu,
menunggu pagi tiba.
Aku menghela napas panjang. Gelisah mulai menebarkan jerat-jerat
kepongahannya. Dan satu persatu mulai memberikan semangat
untuk menggapainya.
Tak sampai lima menit, dinginnya pagi Malang kembaliku terjang.
Inilah pengorbananku, untukmu, pikirku.
Ditemani bintang pagi, aku kian mantap.
Menjelajah subuh yang tak jua berubah hangat.
Bukan
tanpa hasil, akupun berhasil.
Tetapi...
Sebelas jam, sungguh begitu lama.
kekhawatiran menyergap, dan sekejap menguasai.
Wajah
yang berbinar, kembali bermuram durja.
Segeralah senja!, pikiran yang demikian itu membungkus
keinginan hari itu.
Segeralah senja!, pikiran yang demikian itu membungkus
keinginan hari itu.
Satu demi satu mulai menepikan “kesetiaannya” menunggu.
Dia, terdiam, santai, dibawah gelapnya malam, sedikit cahaya.
Dia tersenyum...
Itukah sosok yang aku perjuangkan hingga tanpa sadar ku disini?
Celotehan kecil, dia yang lain, lucu, aneh dan
seharusnyaku “tak” mengajaknya.
Sadarku terusik dari ruang kekosongan.
tahu-tahu, dua bola matanya kini begitu dekat ada di depanku.
“Kamu...”,hanya satu kata itu yang terlontar dari mulutku.
“Dia”, memperhatikan serius barisan kata yang mungkin
akan keluar, selanjutnya.
Tapi, aku kembali terdiam.
“Finally, kita ketemu juga...,” ujar ku dalam hati.
Lalu, semua berubah jadi cerita suka cita.
Dibawah sinar bulan, aku dan kamu.
Memulai mengukir cerita, bersama. :)

nice post :)
ReplyDeletememory in package :D
Deletewes gede waah.... lekas nikah... biar ga galau terus.
ReplyDeletetemenku aja masih kuliah udah ada yg lamaran kok.. biar kehindar dr yg ga dibolehin :D
WIDIH.....
Deleteini tentang apa yang aku pikir n rasakan.
hahaah