“hitam, hanya hitam sekali penghidupan perempuan bangsa kita di masa
yang silam, lebih hitam, lebih kelam dari malam yang gelap. Perempuan bukan
manusia seperti laki-laki yang mempunyai pikiran dan pemandangan sendiri, yang
mempunyai hidup sendiri, perempuan hanya hamba sahaya, perempuan hanya budak
yang harus bekerja dan melahirkan anak bagi laki-laki, dengan tiada mempunyai
hak. Setinggi-tingginya ia menjadi perhiasan, menjadi permainan yang
dimulia-muliakan selagi disukai, tetapi dibuang dan ditukar apabila telah kabur
cahayanya, telah hilang serinya”
Penggalan pidato kongres putri sedar dalam
novel “layar terkembang” membuatNya terus berjuang untuk tidak pernah kalah
dari laki-laki. Dia tidak mau menjadi manis yang selalu diidamkan dan dibuang
bila telah pahit.
Novel yang membangun semangat
orang-orang muda itu telah menginspirasikan dia banyak hal tentang hidup. Termasuk
peran wanita dalam suatu organisasi, seperti yang dijalani. Awalnya, dia sama
sekali tidak tertarik untuk membaca novel itu. Tetapi guru bahasa indonesia
kelas VIII terus saja mendengung-dengungkan tuti dan maria, dua karakter dalam
novel layar terkembang. Bermula dari penasaran, kemudian iseng membacanya,
langsung terbelalak pada halaman pertama dan kini menjadi novel favoritnya.
Seolah ingin seperti Tuti yang kukuh
pendirian, tak suka beri-memberi, gelisah bekerja dan berjuang untuk cita-cita
yang menurut pikirannya mulia dan luhur, dia terus menapaki hidupnya.
“Come on baby”, suaraNya memanggil
salis yang masih sibuk merapikan meja ketika jam istirahat tiba. Bersama
enam sahabat terdekatNya, bergegas
menuju kantin. Di tempat makan yang tidak begitu longgar itu mereka senantiasa
berkumpul. Entah untuk memperbicangkan hal sepele ataupun membahas organisasi.
Dengan kepala mendongak, mereka semua berjalan seakan para model yang
melenggang di atas catewalk. Tak peduli siapa
yang dilewati, mata mereka tetap memandang ke arah depan. Ketenaran disekolah,
membuat mereka menjadi insan yang berbeda.
Kebersamaan dalam kelas yang hampir
dilalui selama dua tahun menambah kekompakan. Kemanapun salah satu dari mereka
pergi, yang lain selalu menemani.
Bagai bulan dipagar bintang, itulah mereka. Hari-hari yang dulu pernah dibangun bersama mereka (yang lain), telah kembali. Bersama orang-orang baru dengan karakter yang baru pula. Bulat tekat ketujuhnya untuk selalu berbagi suka duka.
Bagai bulan dipagar bintang, itulah mereka. Hari-hari yang dulu pernah dibangun bersama mereka (yang lain), telah kembali. Bersama orang-orang baru dengan karakter yang baru pula. Bulat tekat ketujuhnya untuk selalu berbagi suka duka.
Setiap mereka berusaha mengenal benar
karakter yang lain. Riswa, seorang yang mudah kagum, mudah memuji dan memuja.
Riha, yang lembut dan kalem, selalu rasional dan bertanggung jawab atas apa
yang dia ucapkan. Eli, si hitam mungil yang lincah. Nastiti, pendiam dan penuh
kejutan. Mika, gadis menawan yang sangat pantas menjadi seorang entertainer dan terakhir salis, si
tomboy yang cinta akan suara merdunya.
Dari keseluruhan karakter, Dia lah
yang paling mendominasi karakter negatif. Keegoisan tidak pernah absen untuk
selalu bersamanya. Setiap tutur kata yang dia ucapkan, dipenuhi keinginan
menjadi pemenang. Sikap dan sifatnya yang judes dan galak membuat para kumbang
Matsaneba menjulukinya “singa betina”. Tetapi sebutan apapun yang mereka
berikan, Dia tetaplah Dia. Gadis yang bangga menjadi dirinya sendiri.
Pukul setengah dua, jam sekolah
berakhir. Siang itu waktu "Dia" dan para sahabatnya menemani Salis latihan vocal. Walaupun mereka tidak ikut serta,
sekedar menemani diperbolehkan. Dengan seksama Dia mengamati latihan yang Salis
jalani. Selain Bagus "ketos matsaneba", Salis satu-satunya siswa kelas F yang punya sense of music begitu besar.
Kelenturan pita suara saat membunyikan nada begitu indah didengar.
Kelenturan pita suara saat membunyikan nada begitu indah didengar.
Berdasar buku “practtica di musica”
karya komponis “Ladovico Zacconi” latihan vokal yang baik adalah berusaha
menjadikan semua bunyi menjadi huruf-huruf hidup agar produksi suara yang
dihasilkan menjadi bulat, merdu dan indah. Perlahan-lahan Salis membunyikan
vokal o. Dengan membentuk bibir sebundar mungkin disertai pangkal lidah
diangkat kemudian dimundurkan sejauh-jauhnya dari alveolus. Intruksi dari pelatih vokal Salis membuat Dia dan
teman-temannya terhipnotis untuk mengikuti setiap teknik yang diucapkan. Materi
dasar vokal terlampaui. Selanjutnya adalah teknik pembentukan bunyi konsonan. Dia
yang memang tidak mahir membedakan consonant
labio – dental (f,v) menjadi bingung.
“Cuma segitu kemampuanmu?”, Salis melempar muka seraya berkata dengan mengejek. Sementara teman yang lain tertawa geli menatap wajah Dia yang telah memerah. Dia tiada menjawab perkataan Salis. Mimik wajah yang kian lucu membuat teman-teman tidak bisa menahan tawa lagi. Apalah daya dikata, Walau dalam namanya terkandung huruf “f” namun dia selalu lupa apa sebutan huruf itu.
“Cuma segitu kemampuanmu?”, Salis melempar muka seraya berkata dengan mengejek. Sementara teman yang lain tertawa geli menatap wajah Dia yang telah memerah. Dia tiada menjawab perkataan Salis. Mimik wajah yang kian lucu membuat teman-teman tidak bisa menahan tawa lagi. Apalah daya dikata, Walau dalam namanya terkandung huruf “f” namun dia selalu lupa apa sebutan huruf itu.
Semakin hari, kekompakan yang mereka
tunjukkan seperti elang menyongsong angin. Perbedaan sifat dan pekerti tiadalah
merenggangkan tali Ilahi yang telah mempertemukan mereka. Kebijakan tiap
individu yang berdaya memaklumi dan menghargai yang lain dijunjung tinggi.
Sebagai perempuan, mereka sadar dan
tahu benar akan tanggung jawabnya dimasa mendatang. Peran perempuan tidaklah
mudah. Mereka merupakan calon-calon ibu yang mempunyai pengaruh penting dalam
mendidik anak. Ibulah yang pertama kali memimpin anak dan menetapkan sifat-sifat mulia yang seumur hidup tidak
berubah lagi dalam jiwa anak.
“Sesungguhnya kalau perempuan
dikembalikan derajatnya sebagai manusia, barulah keadaan bangsa kita bisa
berubah”. Pemikiran yang sama pernah dilontarkan R.A Kartini dalam bukunya “habis gelap terbitlah terang”.
Perempuan tidak sepatutnya menjadi serep.
Mereka mempunyai hak untuk berdiri sejajar dengan laki-laki. Kebebasan
untuk berpendidikan haruslah mereka punya. Walaupun begitu tidaklah pantas
kalau mereka lupa akan kodratnya setelah berilmu. Maksud hidup perempuan adalah
untuk mengabdi. Menggunakan kecerdasan yang dia miliki sebagai pelengkap
kecerdasan laki-laki. Begitu pula budi pekerti perempuan, semata-mata ditunjukkan
untuk keperluan laki-laki. Memang pantas kalau kebanyakan laki-laki menyukai
perempuan kalem dan penurut. Sifat penurut itu adalah jalan menuju cinta,
kesungguhan hati menuju kasih sayang dan setia membangkitkan kepercayaan.
Bahkan “Mangkunegara IV”, raja dan penyair termasyhur itu pernah mengatakan
bahwa bukanlah guna-guna, bukanlah mantera, bukanlah yang ghoib yang dapat
dipakai untuk melayani laki-laki. Tetapi perempuan menurutlah yang selalu akan
dicintai pasangannya.
Meskipun begitu, juga tidak pantas
kalau laki-laki memperlakukan dan mengharuskan perempuan untuk bersikap
selayaknya Mangkunegara ucapkan. Untuk itulah sedari kecil, Dia dan
teman-temanya membiasakan diri terlepas dari bantuan laki-laki. Mereka
mempunyai kreativitas dan aktivitas yang bisa menjadikankan lebih mandiri.
Sebagai perempuan, sifat dan sikap Dia jauh berbeda dengan yang diidamkan para
laki-laki. Sifat penurut bukanlah miliknya. Dia selalu mempunyai cara pandang
tersendiri dalam setiap masalah yang dihadapi. Baginya tidak mudah mengatakan
“ya” untuk hal-hal yang memang perlu berpikir berulang ketika harus
mengatakannya. Sebenarnya Dia juga setuju kalau setiap perempuan harus
mempunyai sifat penurut. Tetapi bukan untuk semua hal. Adakalanya perempuan
memiliki pemikiran sendiri akan sesuatu dan sudah selayaknya laki-laki
mendengarkan dan menghargai bukan hanya mengacuhkan.
Pemikiran-pemikiran sederhana Dia
beserta teman-temannya telah menghadirkan “The R Girl”. Sebutan untuk kelompok
kecilnya yang suka bersosialita, berorganisasi tanpa melupakan tanggung jawab
sebagai perempuan.
Sekedar menyisihkan uang jajan, mereka
belajar menumbuhkan kepedulian pada
orang lain. Uang tiga ribu perak yang orang tua mereka berikan, disisihkan
seribu setiap harinya seperti kesepakatan yang telah mereka bertujuh buat.
“Sebulan rata-rata ada 30 hari. Dikurangi libur empat hari, berarti tinggal 26 hari. Anggap aja 26 hari kita menjalani aktivitas disekolah. Berarti setiap kita bisa menabung 26.000, kalau dikali tujuh dapat berapa? Hitung-hitung!”, pemaparanNya untuk rencana kecil. “lumayanlah, 182.000”, sahut Salis. “wah SPP empat bulan tu”, sahut risma. “cerdas”, sambung Dia lagi “berarti uang itu bisa membantu teman kita yang kesulitan biaya donk”. “bener, kita bisa membantu mereka bayar SPP, tetapi siapa yang mau kita jadikan target? Tidakkah dia merasa dihina?”, tanya Mika. “tidaklah teman-teman, kita bisa memberikannya secara diam-diam. Ucapan yang keluar dari mulut kita harus enak didengar jangan sampai membuat dia sakit hati. Lagian tidak semua dari kita akan memberikannya. Cukup Fra dan aku. Yang lain berpura-pura saja tidak tahu”, jelas Riha dengan bijak. Benar sekali, tak butuh waktu lama untuk menemukan teman yang membutuhkan uluran tangan mereka.
Sebulan berlatih untuk tidak
menggunakan habis uang jajan berjalan sukses. uang yang terkumpul juga sama
dengan perhitungan awal. Sepulang sekolah, bergegaslah Dia dan Rahma menemui
teman yang telah disepakati untuk diberi sedikit uang tersebut. Sebagai pengalaman
awal, mereka begitu canggung menggunakan kata-kata. Tetapi tanggapan teman
kurang bernasib baik itu sangat menakjubkan. tanpa berkata, air mata mewakili
kegembiraannya. Fracia dan Rahma yang tidak menduga akan sebahagia yang mereka
rasakan. Segera mereka bercerita kepada lima anggota the R gilrs yang lain
dengan mata berkilat-kilat. Rencana awal begitu sukses, mendorong mereka untuk
memunculkan rencana lain. Tiadalah lama, agenda-agenda yang lebih besar telah
mereka persiapkan, termasuk acara pengganti pesta ulang tahun dikala masing-masing
mereka ulang tahun.
Dia yang dari kecil tidak pernah
dilatih membuat perayaan diulang tahun, sudah terbiasa dengan itu. Berbeda
dengan yang lain, ada saja alasan mereka untuk tidak menyetujui gagasan.
“Membuat orang lain tersenyum akan meninggalkan kesan berbeda loh dari pada sekedar menghabiskan uang untuk pesta”, kataNya pada sahabatnya.
“Membuat orang lain tersenyum akan meninggalkan kesan berbeda loh dari pada sekedar menghabiskan uang untuk pesta”, kataNya pada sahabatnya.
Manggut-manggut keenam temanNya, menandakan mereka akan mencoba mengubah tradisi. Uang jatah pesta, telah diminta jauh-jauh hari untuk mereka tabung. Kala waktu ulang tahun tiba, mereka berduyun-duyun saling membantu memilih pakaian, mainan juga sedikit makanan untuk teman-teman di panti asuhan. Orang tua mereka begitu bangga dengan niat baik putri-putri kecilnya. Dengan rasa tak mau kalah, mereka juga berduyun-duyun menambah jatah uang pesta.
Senyum penghuni panti atas kedatangan
mereka, mengubah sedikit pemikiran mereka tentang hidup. Walau para penghuni
panti itu tidak bisa memberikan apa-apa sebagai imbalan, namun hanya dengan
melihat mereka tersenyum bahagia telah membayar semua lelah dan pengorbanan The R Girls. Hidup itu adalah berbagi,
tidak harus dengan uang, cukup dengan kebahagiaan atau senyuman.

0 komentar:
Post a Comment