Kakak…
Hehe, sedikit aneh, meski sekedar menuliskannya.
Mungkin aku telah lama melupakan kata itu. Maklum, sudah lama kita tidak
bertegur sapa, padahal (seingatku)kemarin kamu masih menelponku, sms aku juga,
walau hanya untuk mendengar kabarku.
Oh iya, kayaknya sekarang kamu sudah klik
dengan yang ini. Beda banget sama sebelumnya. Hehe, top wes.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Baiklah, Keputusanku (karenamu) beberapa waktu
(yang sangat lama) lalu membuat kita harus kembali menjalani hidup
masing-masing. Melupakan segala mimpi yang pernah terbangun bersama, dibawah
langit biru, kesukaanmu, kesukaanku juga sih, semua karena ulahmu.
Sekarang, aku ingin bercerita. Cerita yang
tidak menarik untuk kau baca (kayaknya) tetapi aku yakin, akan membuatmu sangat
iri kepadanya. Atau mungkin, kamu bisa bilang Tuhan tidak adil. Haha, bercanda.
Aku tahu, kamu masih seperti dulu, pria rasional yang jauh dari prasangka.
Kak, kau ingat ? berapa lama kau berjuang
mendapatkan perhatian dan hatiku?
“kurang lebih 2,5 tahun”. Sangat lama
dan aku tidak bisa membayangkan, gimana perasaanmu waktu itu.
Kau yang dengan kegigihanmu, sedikit demi
sedikit mencoba mengubahku. Ya, Fimmatur Rizka Ardina… cewek sangat egois,
pemarah, gampang ngambek, cerewet, tomboy dan masih banyak lain (kau sangat
tahu apa saja yang belum aku sebutkan). Tak ada kata mengeluh darimu atas semua
sikap dan sifatku yang tidak pernah jelas.
Selamat ya, sepertinya kamu berhasil. Kini, aku
bisa menjadi wanita yang lebih tangguh, sedikit lebih sabar, bisa memaafkan dan
pengertian. Tetapi, sayang,,, kau tidak menikmati perjuanganmu ini. Semua (telah)
aku berikan buat dia, dia yang saat ini bersamaku. Kau tahu kak? Tidak butuh
waktu lama untuk dia menakhlukkanku, begitu juga dengan orang-orang disisiku,
yang (dulu) begitu sulit kau raih.
Kurang dari 12 bulan, semenjak kejadian itu. Aku
jadi jarang bahkan tidak bisa menangis. Bukan hanya itu, aku tidak bisa
menggunakan perasaanku. Tak ada rasa yang bisa aku berikan, kepada siapapun dan
dalam bentuk apapun. Aku juga tidak
mengerti, apa yang terjadi padaku. Kau juga tahu, begitu banyak dia dia dia
yang berada di sekelilingku, tetapi itu hanya membuatku semakin tak memiliki
perasaan. Mereka (lain) pikir aku senang? Mereka pikir aku bangga? TIDAK. Aku sangat
lelah, bahkan aku merasa semakin tidak ada yang menyayangiku.
Pastinya kau (juga) sangat tahu, aku bukan tipe
cewek yang gampang menyukai sesuatu dan kalaupun aku mendapat apa yang ku inginkan,
aku akan terus menjaganya dan saat itu pula aku jadi fighter.
Kini, aku mengalami itu. Aku berjuang,
mendapatkan dia (seutuhnya). Hehe, sedikit aga tidak percaya. Seorang Fimma? Berjuang
untuk cinta? Ga salah tuh???. Pasti kamu ketawa. Jangan ketawa kak!. Aku sungguhan
ini. Aku menyayanginya, sangat menyayanginya. Entah mulai kapan. Yang jelas,
sekarang aku merasa akan sangat sedih bila dia sedih. Aku akan khawatir bila
tidak mendengar kabar dia. Dan aku tidak bisa melewati waktu tanpanya. (terdengar
sangat lebay memang)
Pukul 17.00, waktu yang sangat aku nanti karena dia akan pulang dan beristirahat. Walau jarak memisahkanku dengannya, namun tetap saja aku sangat senang ketika waktu itu tiba.
Kamu tahu? sekarang aku bagaikan seorang istri yang menanti suaminya datang, dengan segala persiapan yang dia butuhkan pastinya. (HAHA, lebai)
Andai saja kau juga tahu sekarang aku bisa belajar mengendalikan emosiku. Aku takkan mudah marah, meski dia jarang mengabariku, atau lama membalas smsku. Selalu ada alasan bagiku untuk berpositif thinking untuknya. Sungguh aneh, aku juga tidak menyangka bisa baik gini.
Aku belajar darimu, belajar menaruh kepercayaan untuknya.
Hm, lebih dari itu. Aku rela menunggunya, meski
untuk waktu yang lama dan meski tanpa “guarantee”. Aku akan berjuang, sama
sepertimu (dulu) tetapi sepertinya aku tidak akan dan tidak menginginkan hal
sama seperti akhir perjuanganmu. Dia tidak perlu tahu perjuanganku, dia cukup
tahu kalau aku sangat menyayanginya, dan sebisa mungkin aku akan bertahan,
terus menunggunya, sebenar-benarnya menunggu.
Oh iya, kau pernah bilang “seorang wanita tidak
boleh mengatakan sesuatu yang bisa membuat pasangannya kurang nyaman (disaat
jauh)”. Kata-katamu itu sangat membantuku. Dia (sekarang) ada berada jauh
dariku. Berangkat pagi, pulang sore. Malam, itulah waktu untukku. Itupun aku
tahu diri, dia perlu istirahat untuk mempersiapkan hari esok. Kamu tahu??? Aku belum
pernah mengeluh loh sejauh ini, sebenarnya ingin sih, tapi aku selalu ingat
kata-katamu. Jadi aku putuskan, aku akan jadi rumahnya. Membuatnya senyaman
mungkin bila bersamaku, aku tidak akan mengeluh, aku tidak akan sedih dan
meminta banyak waktunya, aku akan mendukungnya, aku akan jadi wanita yang lebih
kuat dan aku akan selalu mendoakannya.
Kamu pastinya iri. Dulu, aku tidak pernah
seperti ini. Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit ngambek. Hehe, aku tahu, saat
itu kau sangat lelah mengahadapiku.
Aku ingat, sebentar saja kau tidak sms atau
memberi kabar, aku akan marah, laaammmma sekali dan aku (kembali) tersenyum
bila coklat juga seuntai mawar menghampiriku. (sedikit kangen sih dengan coklat
dan bunga itu, hehe)
Huhft… aku bingung
kak, mau cerita apa lagi. Meski (masih) sebentar, tapi dia sudah banyak
mengukir peristiwa bersejarah dan aku sangat berharap, ini tidak akan selesai
begitu saja. Aku ingin laammmmmaa bersamanya, sangat lama, selama sisa
kontrakku di dunia (mungkin).
Laen waktu, kalau aku sempat, akan aku
ceritakan lagi kisahku.
selamat berbahagia, kakak… J
“kurang lebih 2,5 tahun”. Sangat lama dan aku tidak bisa membayangkan, gimana perasaanmu waktu itu.
Pukul 17.00, waktu yang sangat aku nanti karena dia akan pulang dan beristirahat. Walau jarak memisahkanku dengannya, namun tetap saja aku sangat senang ketika waktu itu tiba.
Kamu tahu? sekarang aku bagaikan seorang istri yang menanti suaminya datang, dengan segala persiapan yang dia butuhkan pastinya. (HAHA, lebai)
Andai saja kau juga tahu sekarang aku bisa belajar mengendalikan emosiku. Aku takkan mudah marah, meski dia jarang mengabariku, atau lama membalas smsku. Selalu ada alasan bagiku untuk berpositif thinking untuknya. Sungguh aneh, aku juga tidak menyangka bisa baik gini.
Aku belajar darimu, belajar menaruh kepercayaan untuknya.
Huhft… aku bingung
kak, mau cerita apa lagi. Meski (masih) sebentar, tapi dia sudah banyak
mengukir peristiwa bersejarah dan aku sangat berharap, ini tidak akan selesai
begitu saja. Aku ingin laammmmmaa bersamanya, sangat lama, selama sisa
kontrakku di dunia (mungkin).
selamat berbahagia, kakak… J

membacanya sangat menyesakkan dada... tetesan air memaksa keluar dari sudut mata, tapi kutahan. aku di warnet soalnya malu kan kalo dilihat org.
ReplyDeletesemua kenangan seakan di flashback kembali kadang ada yg di slow motion. jd ingat waktu badanku panas kamu suruh jemput di tempt les, pdhal hujan deras. anehnya kok aku mau..!!! semua memberikan pelajaran yg berharga...semoga kita bahagia di jalan kita masing2. walau tidak bisa bersama tapi kita tetap saudara!
terimakasih untuk semuanya :)
Delete