Hiruk pikuk masa lalumu terus saja berlarian menuju
arahku.
Sial, sempat aku terpengaruh dan resah.
dan untuk kesekian kali, hatiku memenangkanmu.
dan untuk kesekian kali, hatiku memenangkanmu.
Mulai detik ini, aku hanya akan mendengar, apa yang kamu katakan,
bukan mereka.
biar saja mereka berceloteh riang, memamerkan kenangan.
benar, “hanya kenangan”.
biar saja mereka berceloteh riang, memamerkan kenangan.
benar, “hanya kenangan”.
Awalnya, aku tak punya nyali untuk menuliskan ini, tetapi
entah…
ingatan seperti apa yang bisa membujukku.
ingatan seperti apa yang bisa membujukku.
“Kau
Pantas di Tunggu”
ya, walau mungkin bumi takkan berputar dan mentari takkan
bersinar, lagi.
***
“menunda perjumpaan” membuatku mengerti seberapa berharga
dirimu buatku.
Kamu, hanya kamu yang aku tuju.
Saat kau meratap dan tertawa, aku ingin disana,
disampingmu,
Saatku berpijak dan melangkah, aku ingin kau disini,
temaniku.

Mulai detik ini, aku hanya akan mendengar, apa yang kamu katakan, bukan mereka.
ReplyDeletebiar saja mereka berceloteh riang, memamerkan kenangan.
benar, “hanya kenangan”.
wah .. nyuindir ini :o
hahaha, kok ngerasa sih non ?
Deletepadahal aku g menyinggung tentangmu. _"
yah maksudku nyuindir .. entah aku ato yang lain neng :)
ReplyDelete