Thursday

Sahabat Matahari

sepertinya dingin mulai menghunuskan ketajamannya, tak peduli siapa yang akan jadi korban. begitu juga malam ini. dingin mulai mengurai kehangatan menjadi bagian-bagian terkecil yang kemudian menghilang.

"nak, bangun ! sudah pukul 06.00", seorang ibu berperawakan anggun membangunkan anaknya. 

lama si ibu menunggui anaknya yang masih terlena dibalik hangatnya selimut. "nak, ayow bangun", pinta ibu sekali lagi.


adalah dia, si Burhan. seorang anak yang lincah, suka berceloteh tak jelas, tentang apapun. 

"oh... jam brp ini bu ?", tanya burhan ketika menyadari hari ini dia harus sekolah. 
"sudah jam 6 lewat le, cepat bangun ! ibu dah siapkan sarapan", jelas ibunya.

tanpa berpikir panjang, dia langsung melompat dari tempat tidur, bergegas menuju kamar mandi. dan tidak seperti kebanyakan anak-anak sebayanya, dia mandi begitu lama. 

tepat pukul 07.00, dia berhasil sampai sekolah, tidak telat lagi. hari itu, dia sangat bersemangat karena pelajaran pertama adalah kesenian. wajarlah, anak seumuran SD. 

tapi ternyata, dia beda dari yang lain. anak-anak seumuran dia biasa menggambar gunung yang di tengahnya terselip matahari kuning, tidak lupa juga jalan yang di kanan kirinya memuat sawah berpetak -petak. terlihat buku gambar burhan hanya dipenuhi lingkaran dengan hijau sebagai warna pengenalnya. 

sebagai guru, jelas aku ingin tahu apa maksud anak ini. ketika ditanya dia tak menjawab apapun, hanya tersenyum, membuat semuanya menjadi serba penasaran. 

lama sudah aku memendam penasaran hingga suatu saat aku tak kuasa lagi dan ku putuskan tuk segera menuju rumahnya. belum sampai masuk ke dalam rumah, aku telah disambut lukisan yang tak asing lagi bagiku. ya benar, matahari hijau, persis seperti yang sering aku lihat di buku gambarnya. 

belum sempat aku bertemu ibunya, ku urangkan niat. memalingkan tubuh, memilih jalan berlainan yang akan membawaku pulang ke rumah.

seminggu kemudian, aku lihat gambar mataharinya tak lagi hijau. kini dia mewarnai dengan warna hitam. ah, apa ini maksudnya ?, aku semakin penasaran. namun, aku tak mau kalah dengan rasa ingin tahuku. seketika itu juga, kutenggelamkan egoku. menganggap dia tak mungkin menyampaikan suatu makna tersirat. 

berhari - hari ku coba memutar otak, berpikir untuk jawaban atas pertanyaan yang semakin lama bertengger indah dalam ingatan. "baiklah, aku akan ke rumahnya, menanyakan seperti apa sosok anak didikku satu ini", bulat tekatku.

hari minggu ku pilih untuk berkunjung ke rumahnya.
tanpa basa basi, aku langsung menanyakan siapa pelukis lukisan matahari hijau itu.

dengan mata teduh dan penuh kejujuran, si ibu berkata "dia anakku yang tak pernah kutemui lagi sejak 5 tahun yang lalu".


0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.
© Secret Letter | Powered by Blogger | Happy Day Template designed by BlogSpot Design - Ngetik Dot Com