detik ini, ingin ku papas segala ragu,
dengan cahaya yang begitu sederhana.
dengan cahaya yang begitu sederhana.
ya, cahayamu...
datang dengan pelan...
namun sanggup merobohkan tembok terkuatku.
sayang,
datang dengan pelan...
namun sanggup merobohkan tembok terkuatku.
sayang,
kuakui...
sajakmu begitu puitis sampai naluriku tak sanggup menyelaminya,
makna katamu begitu dalam...
kata hatimu sangat mencekram...
hingga...
ku tak mampu berkata...
ku tak sanggup bersikap...
sajakmu begitu puitis sampai naluriku tak sanggup menyelaminya,
makna katamu begitu dalam...
kata hatimu sangat mencekram...
hingga...
ku tak mampu berkata...
ku tak sanggup bersikap...
namun tetap...
ada dua sisi dalam dirimu yang masih belum bisa aku sibak,
ada dua sisi dalam dirimu yang masih belum bisa aku sibak,
kadang kau datang dengan segenap rasa yang ada, bagaikan hujan di musim kemarau,
kadang pula kau cuek seperti tak ada apa-apa,
meski begitu,
ada logika yang masih bisa menangkapnya,
meminta berpikir sederhana.
kadang pula kau cuek seperti tak ada apa-apa,
meski begitu,
ada logika yang masih bisa menangkapnya,
meminta berpikir sederhana.
ah, sayangku...
aku tak seberani itu mengungkapkannya,
aku tak bisa menafsirkannya.
aku tak seberani itu mengungkapkannya,
aku tak bisa menafsirkannya.
aku juga tak seindah warna putihmu,
yang ku tahu,
aku akan mengalir seirama kata hatimu,
mengikuti langkah kaki yang kau kehendaki,
meski itu hanya fatamorgana,
ku kan tetap mengiringinya...
yang ku tahu,
aku akan mengalir seirama kata hatimu,
mengikuti langkah kaki yang kau kehendaki,
meski itu hanya fatamorgana,
ku kan tetap mengiringinya...
karena cinta,
takkan lengkap tanpa sapa air mata, sepertinya.
takkan lengkap tanpa sapa air mata, sepertinya.

0 komentar:
Post a Comment