Sunday

UNTITLE

tak mudah menjadi aku. saat ingin bangkit justru kau datang padaku tanpa keyakinan. hanya rasa "ingin", sepertinya. aku bisa apa ? bahkan sekedar untuk berkata saja aku tak bisa. sikap dan ucapanmu memaksa pita suaraku 'tuk diam. meskipun begitu, aku masih punya sesuatu // pelukan yang akan menghangatkanmu. kau percaya ? seharusnya iya. // tanpa kau sadari doa-doaku memeluk dan mengobati lukamu. kemarilah, kasih!. semua ini terlalu rugi tuk kau sia-siakan. masih ingat juga kah kamu ketika pertama aku melihatmu ?. tidak lama memang, namun cukup. 
ah, aku takut agaknya. aku takut jatuh cinta.
 

//"jangan jatuh cinta", kata-kata yang selalu kau tuliskan (dulu).//

tak lama, memang. sebelum waktu menjamah dan merebutmu dari sisiku, aku harus merelakan diriku tuk jatuh. jatuh hati pada seseorang yang belum ku ketahui seperti apa. kamu. 

dari kehidupan aku belajar, memang luka tak akan abadi. begitu pula kisah bahagia tentang kita (nantinya). namun bolehkah aku mencobanya ? 
kemarilah...! kemarilah, kasih !. ceritakan padaku semua lukamu, hilangkan semua takut dan ragumu terhadapku. kalau kau belum mampu, cobalah dulu. dan aku akan mencoba belajar menyembuhkan lukamu. kamu mau, kan ?

kau terdiam, aku pun terdiam. 

disini, di bangku taman yang sederhana. sesederhana cinta membawa kita tuk mempelajari setiap detailnya. terlalu indah saat dilupakan, bahkan saat luka mencoba menghampiri dan mencoba menghapus semua kenangan.

hening... // cukup lama.
serupa itu kah dirimu ? // kumulai memberanikan diri menerka.

asal kau tahu, aku telah disini. mencoba bertaruh pada nasib. aku telah rela untuk semua yang akan kau lakukan untukku. bukankah awal mencintai itu merupakan awal aku memberikan peluang yang sangat besar buatmu tuk menyakitiku ? // nampaknya kau harus melupakan kalimat bodoh itu, sayang.

selayaknya...
cerita ini jatuh disaat yang tepat // setelah penantian, perjuangan, hujan, matahari, angin dan waktu.

dan bila kau tak meresponku, haruskah aku terdiam ?, tentu saja tidak. setelah sekian lama menunggu aku tak mau ada bagian dari dirimu yang tak menganggapku.

siangpun merambah petang. sudah lama sepertinya namun aku tak sadar. aku hanya fokus padamu.

aku memberanikan diri melangkah ditengah malam yang sunyi, bersamamu. awal cerita kita. aku telah sampai pada titik yang harus ku perjuangkan.

malam yang berbeda. sunyi. sepi. hembusan angin malam, mengantar bahasa kesunyian dalam relung hatiku. tertampik. ku rasakan ada kehangatan di dalamnya. seakan ada bagian yang hilang dari dalam diriku yang kemudian ku temukan kembali. 

tak lama. ku terbebas dari lamunan. 

deg! // terkejut. 

kutemukan kata-kata yang menyiratkan tentang kehilangan. akankah ? pasti. 

tiba-tiba saja, dingin kembali berkuasa. hanya untuk berjaga-jaga, mundur selangkah sepertinya perlu. tapi bukan ini yang ku minta. ku langkahkan lagi, dua langkah tanpa berhenti. satu langkah dari posisi semula malahan. harapku, bukan dalam waktu dekat ini. aku perlu kamu tuk mengajari tentang arti bertahan dan menghadapi hidup. 

entah apa yang membuatku akhirnya menuruti isyarat hati. aku mengangguk pelan tuk setiap instruksinya.

nampaknya waktu begitu beringas. seakan dia membawa golok, sabit dan senjata tajam lainnya. 
menyayat hatiku. telanjang dan terluka // cemburu.

belum juga bahagia mendekatiku tuk waktu yang lama. aku telah dilanda perasaan ini. mungkin tak kau sadari, bahkan untuk hal kecil yang kau anggap biasa itu ku cemburui. namun, aku tetaplah aku. berpura saja tak tahu. bukankah bahagia ada di tangan kita ? 

mungkin saat seperti itu kuinginkan malaikat pencabut nyawa bukan dokter cinta yang berpura sebagai penyembuh. namun ku ingat-ingat lagi, mati dan hidup telah ada yang menentukan. demikian pula untukku. 

aku lemas. seketika aku limbung. aku ternganga, tak dapat pula mencerna kalimat selanjutnya. setengah tak percaya namun aku merasakannya. seperti debur ombak yang menghantam pantai dan seketika hening. "wanita itu cantik", katamu tanpa dosa.

aku tak mau memendam rasa karena itu hanya membuat semakin menumpuk dan tak kan terobati bila waktunya tiba. ku ingin kau ketahui itu. meski hanya hal kecil yang tak pantas tuk dikata. 

sendi-sendiku terasa terlepas ketika ku ketahui rangkaian kata yang kalian tuliskan. bukan hanya dulu tetapi saat ini juga. dan untuk nanti, pula. perasaan ku terasa sakit seperti beberapa daging yang ditusuk besi berkarat. hanya aromanya saja yang berbeda. 

pelan tetapi pasti, ku coba mengingat apa yang pernah ku ucap untuk mu. "percaya". butuh waktu tuk mengurangi kekhawatiranku terhadapmu. suasana seperti demikian rupanya yang ku yakini membuat nyaman. 

"aku mencintaimu", kau mengucapkannya. begitu dekat dengan telinga. hingga ku rasa aku telah benar-benar jatuh dalam pelukmu. kau memelukku erat. aku tergagap dalam kata-kata mu. 

rasa ini memang tak bisa ku bohongi. aku terpesona. bukan saja pada tatapan matamu, tetapi semua yang tersaji dihadapanku. semuanya menggugah selera.

aku tak mau jadi pengecut (lagi). selalu saja membiarkanmu bahagia dengan pilihanmu tanpa menyadari bisa jadi bahagiamu adalah bersamaku.

tak pernah jua kau sadari. sesuatu yang hangat menderat di pipiku yang kemudian bersemu merah. ah, agaknya kau telah mendapatkanku. 

waktu berjalan begitu cepat hingga tak terasa kita sampai dititik ini. ya, meski tanpa diketahui titik-titik sepanjang apa yang berjejar setelah ini.

aku dan kamu, kita, disini. saling mengajari bahwa aku ataupun kamu tak sendiri. pada akhirnya, kita (akan) saling menguatkan (semoga). 

Tanpa pedulikan sekeliling, aku dan kau berpelukan lama sampai sore meninggalkan bayangan panjang batang-batang pohon hingga malam berganti fajar. Sepanjang kisah kita sampai akhirnya pada malam juga kita tak menyerah. Kini, kita tak lagi separuh, karena kita sudah utuh, berdua mengarungi hidup, meskipun harus bergantian mengayuh. Agar salah satu bisa membantu saat yang lain terjatuh.

11.44
malang, 31 maret 2013
AKU MENCINTAIMU

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.
© Secret Letter | Powered by Blogger | Happy Day Template designed by BlogSpot Design - Ngetik Dot Com