Sunday

Undefined Variable

seperti hal nya purnama, dia tak selalu utuh. pasti ada saat berkurang dan bertambah. seperti hal nya air laut, ia tak selalu pasang, ada saat nya surut. seperti halnya musim, tak selalu kemarau adakalanya musim hujan. pun "kita".

sebab semua beriringan. untuk itulah ada "kau" dan "aku".

sebab semua beriringan. untuk itulah, kita tak melulu baik-baik saja. pelik, mungkin saja singgah. 

sebab semua beriringan. untuk itulah, selalu ada khilaf yang menyertai, ada pula alpha yang tersemat dalam setiap rentetan yang berarti.

sebab semua beriringan. untuk itulah aku memaklumi bila aku harus sampai pada saat menyeka air mata. tapi masih ku percaya, selepas hujan akan ada pelangi yang mengantarku pada senyuman. dan ternyata itu benar. masih ada kamu, sayang.

-----------------------------------------------------------------------

terkadang, rima hidup begitu sulit kuartikan. 


-----------------------------------------------------------------------


pernah satu hari, aku merasa takut menjadi seorang perempuan, yang mudah meluruh dan tersentuh dengan keadaan. Bahkan, takut karena perasaan ini yang selalu mengalahkan dirinya. Sering juga terbersit, kenapa aku tidak terlahir seperti perempuan lainnya? Yang mampu tegak dan bersikeras untuk menopang perasaannya. Tampak kuat hingga jarang ditemukan buliran-buliran bening di sudut matanya.

Apakah rimanya perempuan ini selalu terbayarkan oleh tangisan? Merasa perasaan itu akan terusir dengan air mata. Kadang wajah ini harus bersembunyi di balik ketundukan. Minimal di balik kaca yang membantu untuk menyamarkan.

Tahukah? Perempuan ini yang begitu mudah menurut oleh perasaannya. Entah karena ia begitu lembut hingga akan merasa terbayarkan kesemuanya oleh deraian air mata yang nantinya membawa mata ini sembab tak karuan.

Perempuan ini yang kadang rimanya terenyuh lagi mengalah atas apa yang terjadi. Kemudian hanya bisa meredakannya dengan beradu padaNya dalam sunyinya.

Perempuan ini juga yang terkadang harus bernafas terputus-putus karena menyangga perasaannya yang seringkali hampir roboh oleh isakan yang merajainya. Sesekali mungkin memainkan kedua tangannya untuk menghapusnya.

Dan, perempuan ini yang akhirnya memang harus mengakui. dia butuh sandaran, seseorang yang dipercaya mampu melakukannya. walau kadang "pria" ini pun masih dipenuhi ketakutan untuk sebuah tanggung jawab yang tidak bisa dikatakan enteng. masih saja "pria" ini. Sebab, perempuan ini yakin, ada energi yang dia butuhkan dan bisa diserap untuk perasaannya ada disana, agar mampu dikembalikan ke tempat yang lebih baik.

0 komentar:

Post a Comment

Powered by Blogger.
© Secret Letter | Powered by Blogger | Happy Day Template designed by BlogSpot Design - Ngetik Dot Com