sebab semua beriringan. untuk itulah ada "kau" dan "aku".
sebab semua beriringan. untuk itulah, kita tak melulu baik-baik saja. pelik, mungkin saja singgah.
sebab semua beriringan. untuk itulah, selalu ada khilaf yang menyertai, ada pula alpha yang tersemat dalam setiap rentetan yang berarti.
sebab semua beriringan. untuk itulah aku memaklumi bila aku harus sampai pada saat menyeka air mata. tapi masih ku percaya, selepas hujan akan ada pelangi yang mengantarku pada senyuman. dan ternyata itu benar. masih ada kamu, sayang.
-----------------------------------------------------------------------
terkadang, rima hidup begitu sulit kuartikan.
-----------------------------------------------------------------------
pernah satu hari, aku merasa takut menjadi seorang
perempuan, yang mudah meluruh dan tersentuh dengan keadaan. Bahkan, takut
karena perasaan ini yang selalu mengalahkan dirinya. Sering juga terbersit,
kenapa aku tidak terlahir seperti perempuan lainnya? Yang mampu tegak dan
bersikeras untuk menopang perasaannya. Tampak kuat hingga jarang ditemukan
buliran-buliran bening di sudut matanya.
Apakah rimanya perempuan ini selalu terbayarkan oleh
tangisan? Merasa perasaan itu akan terusir dengan air
mata. Kadang wajah ini harus bersembunyi di balik ketundukan. Minimal di balik
kaca yang membantu untuk menyamarkan.
Tahukah? Perempuan ini yang begitu mudah menurut oleh
perasaannya. Entah karena ia begitu lembut hingga akan merasa terbayarkan kesemuanya
oleh deraian air mata yang nantinya membawa mata ini sembab tak karuan.
Perempuan ini yang kadang rimanya terenyuh lagi mengalah
atas apa yang terjadi. Kemudian hanya bisa meredakannya dengan beradu padaNya
dalam sunyinya.
Perempuan ini juga yang terkadang harus bernafas
terputus-putus karena menyangga perasaannya yang seringkali hampir roboh oleh
isakan yang merajainya. Sesekali mungkin memainkan kedua tangannya untuk
menghapusnya.
Dan, perempuan ini yang akhirnya memang harus
mengakui. dia butuh sandaran, seseorang yang dipercaya mampu melakukannya. walau kadang "pria" ini pun masih dipenuhi ketakutan untuk sebuah tanggung jawab yang tidak bisa dikatakan enteng. masih saja "pria" ini. Sebab,
perempuan ini yakin, ada energi yang dia butuhkan dan bisa diserap untuk perasaannya ada disana, agar mampu
dikembalikan ke tempat yang lebih baik.

0 komentar:
Post a Comment