Friday,2nd December 2011
Ketika
kau kesepian dan tak ada yang mau menemanimu..
Ketika
kau tertatih dan tidak ada yang menolongmu..
Ketika
dunia mengacuhkanmu…
Disaat
itulah kau akan tahu betapa hebatnya dirimu…
(buatku
yang selama ini selalu menganggap bahwa aku itu anak yang menyusahkan, belum
bisa membuat bahagia kedua orang tuaku dan tiada guna ada ditengah-tengah
mereka)
Di subuh itu, aku lihat seorang anak dengan
pakaian yang indah berlari kearahku seraya mengucap salam dan berkata sesuatu.
Aku terdiam sejenak mengamati dan mencoba mendengar apa yang dia katakan. Dua
pasang mata dalam kesunyian, berpandangan satu sama lain. Menerka dan mencari
makna tiap tanda yang ada. 29 detik pun berlalu, dia memalingkan mukanya
dariku. Berlari menjauh, sesekali melirikku dan seakan berkata dia kecewa
kepadaku.
Aku terpaku dengan penuh tanya.
‘Nak…, ayow berangkat!’, suara ayah membuatku
tersadar dari lamunanku. Secepat mungkin aku mengejar ayah dan berjalan di
sampingnya menuju sebuah mushola. Dalam pikiran, masih lalu lalang bayangan
gadis kecil yang baru saja menemuiku.
Waktupun berlalu, aku tak lagi ingat kejadian
itu. Sampai suatu saat, ketika liburan semester, ayah mengajakku kesuatu tempat
yang teduh, nyaman, dan jauh dari keramaian. Tempat itu adalah sebuah panti
asuhan yatim piatu yang dikelola oleh sahabat karib ayahku. Satu langkah kakiku
keluar dari mobil AG 1610 RL yang dikendarai ayah dan mulai menginjak halaman
yang luas dan hijau itu. Dengan masih terpana, selangkah demi selangkah kakiku
menakhlukkan rumput-rumput hijau yang subur itu.
Dari kejauhan, aku melihat beberapa anak
berlarian menuju kearah keluargaku. Ayah yang sudah tidak asing lagi buat
mereka membagikan coklat dan permen satu persatu kesemua anak yang berjejar
didepan kami. Berbeda denganku yang masih tertegun tak bisa berucap. Ya, aku
memang masih pertama ketempat itu dan sebelumnya, aku tak pernah tahu tentang
tempat itu. “nak, sini bantu ayah…!”, lagi-lagi suara ayah membangunkanku dari
lamunan. Kulihat adik cowokku satu-satunya sudah tidak ada di belakangku, dia
sudah bermain dengan anak-anak panti itu. “nak,, ayo bantu ayah”, untuk
kesekian kalinya ayah memanggilku. Akupun mendekat dan membantu ayah membagikan
coklat. Lebih dari 20 anak yang berjejar, telah mendapatkan bagian dan tinggal
satu anak lagi. “i….. ni dek…”, ucapku pelan ketika aku bertatapan dengannya.
Dia tersenyum manis sambil mengangguk. Aku terkaget, dan langsung teringat
kejadian disubuh itu. “a..yah.., di..a..”, sambil terbata-bata aku mencoba
meminta penjelasan dari ayah. “ada apa nak?”, kata ayah. “dia siapa yah?”,
tanyaku. Ayah tersenyum dan meninggalkanku. “ayah..!!!”,teriakku manja dan aga
kesal. Ayah menoleh dan berkata, ”cari tahu dan kamu akan segera
mengetahuinya”. “Aku semakin tidak memahami semua ini”, ucapku lirih. Satu jam
berlalu, kupun bosan sedari tadi duduk di samping ayah, menemani ayah
berbincag-bincang sambil terkekeh dengan temannya itu, berbicara sana-sini
tidak ada ujung. Aku berdiri, berjalan memutari seisi panti dan mencoba untuk
lebih mengenalinya. Kupandangi satu persatu benda-benda yang ada di dekatku.
Pandanganku terhenti ketika mataku menjumpai photo tua yang wajahnya tidak
asing lagi bagiku. Kucoba mengingat dan ternyata, aku tetap saja tidak ingat
siapa dia. Kulangkahkan kakiku menuju luar ruangan. Di sebelah utara panti,
dibawah pohon mangga, kulihat anak-anak bermain dan salah satunya duduk dikursi
panjang menikmati coklat pemberian ayah tadi. Aku berjalan cepat, menuju anak yang
duduk di kursi dan pelan-pelan duduk disebelahnya. Dia tersenyum menyambut
kedatanganku. “hay..”, kataku. Dia Cuma tersenyum. “nama adik siapa?”,tanyaku
lagi. Dia tetap aja diam tidak menjawab. Adikku yang dari tadi mengamatiku,
mendekat dan berkata “kak, dia itu bisu”. Aku tersontak kaget. jadi, ini
jawaban dari semuanya?, pikirku. di subuh itu, dia tidak berbicara sepatah
katapun. Ini sebabnya?. Adikku menceritakan semuanya kepadaku. Tentang anak itu
dan kekaguman si anak kepadaku, betapa dia ingin jadi seperti aku walau dia
Cuma tahu cerita tentang aku dari ayahku.
Seorang anak kecil yang bisu, belum bisa
apa-apa tapi juga belum tentu bukan apa-apa. Bagi orang-orang disekitarnya,
anak itu sudah merupakan bagian dalam dirinya. Menangis bersama, tertawa
bersama, bermain, bercanda bersama. Tiba-tiba, Aku melihat diriku ada dalam
dirinya. Seorang cewek yang belum bisa apa-apa tetapi belum tentu bukan apa-apa.
Seorang cewek yang pemberani, sabar dan tegar. Aku tanpa sepatah katapun
berlari mencari ayah, memeluknya dan menangis. Ayahku tersenyum kearah
temannya. Temannya paham tatapan ayahku dan berkata,”benar kan, An?”. “ayah,
apa-apaan ini?”, tanyaku meminta penjelasan. “selama ini, ayah sudah capek
mendengar celotehmu, mendengar pengaduanmu yang merasa kamu kurang inilah, itulah…
sekarang kamu sadarkan?”, Tanya ayah. Akupun tersenyum kecut dan berterimakasih
pada ayah.
Yach.. walaupun aku terkenal cuek, galak,
tidak mau menerima kritikan dari orang, dan selalu merasa bahwa aku paling
benar namun tetap saja… aku memiliki perasaan. Dan ayah.. paham betul tentang
itu. Dia tahu bagaimana harus menjelaskan sesuatu padaku tanpa dia harus
berucap. Dia tahu betul apa mauku, dia
tahu betul gimana mengendalikanku. Dia mengetahui siapa aku jauh lebih dalam
dari pada aku mengetahui diriku sendiri. Banyak kejadian luar biasa yang
terjadi dalam diriku dan itu bukan semata-mata karena aku seorang. Itu semua
karena ayah selalu ada di belakangku. Mensupportku dan mendoakanku. Suatu saat,
ketika aku telah meraih sukses… aku yakin, kau orang pertama yang akan menangis
bahagia untukku “AYAH”. Terima kasih ayah. Engkau selalu ada buatku…


0 komentar:
Post a Comment